Selasa, 24 September 2019

Mengetahui Lebih Kuasa Teknologi Informasi



Teknologi informasi adalah jenius yang mengubah wajah aktivitas 'ekonomi konvensional' menjadi ekonomi digital '(yang merelativir interaksi fisik). Teknologi informasi telah berubah menjadi revolusi yang mencengangkan dalam tata interaksi manusia. Kesenjangan yang sama terjadi antara negara kaya dan miskin.

Kesenjangan akses terhadap teknologi komunikasi semakin lebar seiring semakin rumitnya ekonomi. Dan karena itu, negara miskin semakin sulit mengejar ketinggalannya. Karena itu, negara-negara yang dapat memanfaatkan potensi teknologi informasi dan komunikasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat, semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi dan terciptanya tata kelola yang baik. ”

Pertama, membahas digital akhirnya hanya membahas kesenjangan antara yang punya akses terhadap teknologi (si kaya) dan yang tidak (si miskin). Kesenjangan digital memberikan jawaban sederhana (yaitu menggunakan teknologi informasi / komputer) untuk menjawab perdebatan yang rumit (yaitu kemiskinan dan ketidakadilan).

Sementara anak kecil juga tahu bahwa komputer tidak bisa menyelesaikan soal kemiskinan begitu saja. Karena itu pula, seperti halnya tingkat penggunaan dan investasi dalam teknologi sangat berbeda karena perbedaan faktor sosial dan ekonomi, demikian juga kita bisa meningkatkan tingkat efisiensi dan distribusi Negara-negara maju produsen teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan pasar daya serap pasar mereka sendiri terbatas.

Maka, juga seandainya kita tidak memiliki kebutuhan akan barang / jasa tersebut, para kapten iklan dari gaya-hidup akan melakukan usaha sekuat tenaga untuk menciptakannya. Caranya? Teknologi informasi, lengkap langsung atau tidak, berkontribusi atas perubahan sosial yang dimaksud di Indonesia, yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya.

Demikian juga di penghujung tahun lalu, hanya dibutuhkan waktu kurang dari selai bagi seluruh dunia untuk tahu saat gempa dan tsunami melanda negara-negara di tepi Samudera Hindia, dan kurang dari sehari untuk memulai memobilisasi bantuan dari seluruh dunia.

Juga tidak sedikit korban yang akhirnya dapat ditemukan atau ditemukan lagi dengan bantuan teknologi informasi ini. Misalnya kisah bocah dua tahun bernama Hannes Bergstroem yang kini menjadi ikon dunia Ayahnya ditemukan di rumah dan ibu serta neneknya hilang. Namun demikian, proses perusakan itu tidak pernah berhasil dibatalkan inti soalnya.

Sekali lagi, kita bertemu dengan wajah ambivalen teknologi informaasi. Bukan teknologi informasi itu sendiri yang menjadi masalah, dapat diserahkan pada tangan kekuasaan seperti apa. Dari sini juga menjadi jelas tentang perkara teknologi bukan soal ketrampilan teknis, lebih sensitif terhadap praktik-praktik kekuasaan yang punya pertimbangan sosial. Jadi, sementara dengan mudah kita mungkin akan menuding teknologi sebagai biang-keladi, perkaranya sebenarnya tidak sesederhana itu.

Karena perkembangan teknologi semakin meningkat kebuutuhan masnusia akan semakin banyak teknologi juga. Salah satu saat ini yang memanfaatkan teknologi informasi adalah perushaan. Sebuah komputer bisa digunakan sebagai alat untuk Poker Online Terpercaya, atau bisa juga untuk memanipulasi pajak, tetapi juga bisa menjadi alat untuk memberdayakan rakyat banyak. Karena sifat otoritatif itu, bagaimana soal akuntabilitas yang harus diselesaikan dengan teknologi 'kawin-mengawin' dengan kepentingan bisnis? Implikasi etisnya jelas akan kena pada 'pengetahuan' ('pengetahuan') dan pasar ('pasar').

Namun, kita tidak sadar tentang soal-soal kekuasaan rapi bersembunyi dalam pengetahuan teknologis / teknis. Lalu, sementara kita juga tahu itu netral (walau ia sering disalahgunakan), kita perlu pelan-pelan mulai melihat teknologi sebagai instrumen, sementara tempat berlangsungnya praktek kekuasaan. 'Netralitas' teknologi hanya dapat digunakan jika teknologi dikembangkan dari mereka yang dikembangkan dan digunakan (agen latihan) - yang jelas tidak mungkin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar